Life After Graduate: Caraku Berdamai dengan Ketidakpastian
Bagi orang lain, lulus merupakan momen bahagia yang patut untuk dirayakan. Semua orang hadir dengan wajah sumringah, membawa hadiah, doa, dan harapan
Tapi kenapa ya? di momen seperti ini aku merasa jadi manusia yang paling gagal?
Meski, aku tahu, aku sudah berusaha. Tapi aku rasa, aku tidak melakukannya dengan baik. Langkahku masih terasa abu-abu. Realita terasa menakutkan, dan yang paling menamparku, kehidupan seperti di replay dari nol. I know, my life started again and i don't think i'm ready to face it.
halo, precious people.
Tepat bulan oktober lalu, aku baru saja menyelesaikan studiku. Aku rasa momen itu menyenangkan karena aku berhasil melewati fase skripsi-an yang cukup menguras tenaga. Namun, dibalik momen yang terlihat bahagia itu, aku juga dihadapkan dengan realita kehidupan setelah perkuliahan.
Tidak ada lagi hari-hari penuh tugas. Tidak ada lagi cipika cipiki di kelas. Tidak ada lagi suara dosen yang membuatku ingin pulang ke kosan. Tidak ada lagi rutinitas yang biasa aku jalani.
Hidup terasa berhenti.
Meski kenyataannya hidup tidak benar-benar berhenti. Ada realita yang harus aku hadapi. Mulai dari mencari pekerjaan sampai menentukan arah karir untuk kedepannya. But, everything is not easy as imagined. Aku kembali dihadapkan dengan ketidakpastian, penolakan, dan berakhir pada kebingungan yang aku sendiri tidak mengerti dimana ujungnya.
Semua yang aku rencanakan berantakan. Rencana-rencana yang aku tata dengan rapi, tidak berjalan seperti yang aku harapkan. Dan setiap kali aku menentukan tujuan baru. Ujung-ujungnya masih sama. Aku gagal meraih tujuan tersebut.
Sampai tiba di suatu momen. Semua kegagalan cukup membuatku muak dan ingin berhenti. Aku tidak ingin melakukannya lagi. Aku merasa buntu. Tetapi, lagi-lagi aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin tujuanku mati. Aku masih butuh tujuan kecil untuk mencapai tujuan besar yang aku inginkan. Aku butuh pekerjaan yang bisa membuka jalanku kesana. Meski aku sadar, itu tidak mudah.
Maka, dengan berat hati aku tetap mencoba untuk menguraikan kembali apa yang membuatku merasa gagal. Dan apa yang bisa aku bisa aku lakukan untuk menghadapi kegagalan. Harapannya agar aku bisa menerima kegagalan itu dan kembali melanjutkan perjalanan dengan hati yang jauh lebih lapang.
Mari kita mulai.
Kenapa bagiku semuanya terasa gagal?
- Fakta bahwa aku tidak bisa melanjutkan studi. Setelah lulus aku baru menyadari, kalau aku pribadi yang senang belajar. Namun, karena tidak punya privilege ekonomi dan dukungan untuk lanjut studi, aku memilih mundur dari hal itu.
- Realita lapangan kerja. Saat aku sudah menerima fakta bahwa melanjutkan studi bukan opsi untuk saat ini. Aku mulai menerima bahwa aku memang harus bekerja. Selama masih berkaitan dengan pengalaman aku miliki, aku selalu mencobanya. Namun, realita berkata lain. Kenyataannya memang tidak semudah seperti yang aku bayangkan. Skill dan kompetensi belum cukup untuk membuat perusahaan mana pun menerimaku.
- Memilih linjur dari jurusan pendidikan. Disini, aku tidak tahu apakah keputusanku tepat. Hanya saja realita yang sulit untuk menjadi seorang guru, membuatku mundur perlahan. Selain itu, aku sendiri merasa tidak terlalu suka mengajar dan berinteraksi dengan siswa. Aku tidak yakin bahwa karir ini akan membawaku pada hal-hal yang aku inginkan. Walaupun karir ini terlihat stabil untuk jangka panjang. Hanya saja, aku belum bisa melanjutkannya.
- Tanpa privilege ekonomi yang stabil membuatku kesulitan melangkah. Meski dunia menawarkan pelatihan, magang, kelas, atau studi lanjut. Aku tidak bisa memilihnya. Aku tidak punya uang yang cukup untuk membeli kesempatan itu. Aku perlu berpikir ulang beberapa kali. Misalnya aku tidak bisa memilih pekerjaan yang hanya memberikan pengalaman. Namun, tidak memberikan upah yang layak. Sekalipun aku menginginkan pengalaman kerja atau posisi magang tersebut. Aku tidak berani mengambil resikonya.
- Memulai dari nol terasa membingungkan. Sebenarnya aku sadar, yang membuatku kebingungan adalah diriku sendiri hehehe. Aku yang takut untuk mengambil resiko. Aku yang sebenarnya tidak ingin menanggung penderitaan dari keputusan yang aku pilih. Aku yang tidak suka menghadapi kegagalan. Aku yang sudah tahu apa yang aku mau, tetapi tidak berani memilihnya.
- Aku coba untuk menerima. Aku sadar bahwa setiap langkah yang aku pilih memiliki konsekuensinya sendiri. Namun, selama aku yakin dengan langkah apapun itu. Aku akan tetap berani mengambilnya. Aku memberikan kesempatan kepada diriku untuk mencoba dan gagal.
- Aku melihat kembali kelebihan yang aku punya. Meski aku tidak memiliki kesempatan untuk membeli hal-hal yang aku inginkan. Aku sadar masih punya hal kecil yang bisa aku manfaatkan. Aku masih memiliki akses internet yang lancar di rumah. Aku masih bisa menulis, membuat konten, mencari pekerjaan, dan belajar dari berbagai tempat gratis yang tersedia.
- Aku percaya bahwa konsisten akan membawaku pada karir yang tepat. Aku menyadari bahwa di usia 20-an adalah wajar merasa bingung dalam menentukan karir dan tujuan. Oleh karena itu, aku punya kesempatan untuk mencoba berbagai hal baru yang bisa aku lakukan. Aku masih bisa menggunakan waktuku untuk konsisten menulis, belajar bahasa baru, dan membaca buku.
- Aku tidak lagi fokus pada hasil melainkan pada proses. Semakin aku melihat lebih jauh, semakin aku merasa jauh dari tujuanku. Kali ini, aku tidak lagi membiarkan pandangan itu membuatku kebingungan melangkah. Aku membagi langkah besarku menjadi langkah-langkah kecil yang mudah aku capai. Aku mulai dengan mencari tahu kelebihan yang aku miliki. Aku mencoba realistis dengan melakukan freelance, membuat produk baru, lalu menjualnya secara online. Aku mencoba segala hal yang bisa aku upayakan saat ini. Hal-hal kecil yang bisa aku ukur dan capai pada hari ini.


Komentar
Posting Komentar