Ngomong-ngomong soal nikah muda. Aku sebenarnya bukan seseorang yang mendukung hal ini karena beberapa alasan. Tapi, aku juga tidak mengatakan kalau nikah muda adalah sesuatu yang buruk, ya.
Bagi aku nikah muda atau tidak kembali lagi ke preferensi masing-masing orang. Setiap orang punya hak untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri. Selain itu, tulisan ini juga tidak ditujukan untuk menghakimi siapa pun tetapi hanya sekedar untuk sharing dan refleksi.
Nikah muda adalah pernikahan ini dilakukan di usia relatif muda, biasanya dibawah usia ideal menikah baik secara biologis, psikologis, maupun sosial-ekonomi.
Menariknya menurut pandangan Laurence Steinberg (2013) pada dasarnya kedewasaan seseorang ternyata tidak bisa diukur dari umur saja, melainkan dari perkembangan otak dan kesiapan psikososial kontrol diri dan pengambilan keputusan.
Dari penjelasan itu udah kebayang kan nikah muda itu konsepnya gimana?
Sekarang, lanjut ke pertanyaan inti:
"Sebenarnya nikah muda itu boleh atau nggak sih? Worth it nggak buat dilakuin?"
Jawabanku: tergantung.
Ada banyak faktor yang bisa jadi pertimbangan.
Dan bisa juga tiap orang punya faktor pertimbangan yang berbeda-beda.
Nah, untuk pembahasan kali ini aku akan fokus pada tiga faktor yaitu biologis, psikologis, dan sosial-ekonomi.
Pertama, nikah muda dari persepsi biologis.
Kalau dari sudut pandang aku pribadi, aku amat sangat tidak menganjurkan siapapun untuk menikah di usia yang terlalu muda. Mengapa demikian?
Karena dari perspektif biologis sendiri, pernikahan di usia muda tidak bisa dilepaskan dari isu kesiapan tubuh manusia. Dimana dalam banyak kasus, nikah muda beriringan dengan kehamilan di usia muda yang tentunya beresiko tinggi untuk kehamilan maupun persalinan (WHO, 2014). Di sisi lain, laki-laki yang belum matang secara usia juga umumnya belum memiliki kesiapan fisik dan psikososial yang cukup untuk menopang kehidupan keluarga, termasuk mengelola emosi, tanggung jawab, serta stabilitas sosial-ekonomi (Erikson, 1968).
Selain itu, menikah di usia terlalu muda juga tidak sesuai dengan UU Perkawinan Indonesia (revisi 2019) yang menetapkan usia minimal menikah 19 tahun bagi laki-laki dan 21 bagi perempuan.
Kasarnya kita itu sebenarnya masih terlalu muda. Belum cukup umur. Belum waktunya buat jadi orang dewasa. Kayak, main dulu kenapa? Kan seru tahu hidup isinya main-main doang. Asal jangan mainin kehidupan aja. Tetap tahu diri, tahu batas. Jangan males lo.
Memang, di usia muda gue sadar. Kalau kita sedang berada dipuncak euforia tertinggi jatuh cinta. Istilah kerennya,
butterflies in the stomatch. Secara nggak sadar kita sudah tidak memikirkan tubuh kita mampu atau nggak, tapi pikiran kita udah
stuck di kalimat-kalimat kayak:
"Kayaknya gue nggak bisa hidup tanpa dia."
"Pokoknya gue cinta banget sama dia, gue nikah sama dia."
Gue sama sekali nggak meremehkan perasaan itu. Gue juga pernah ngalamin hal yang sama. Rasanya sangat menyenangkan, bikin hari-hari cerah. Sampek lupa kalau cara kerja tubuh kita dan dunia nggak sesederhana perasaan. Kompleks, cuy.
Secara neurologis, otak manusia terutama bagian yang mengatur pengambilan keputusan, kontrol emosi, dan perencanaan jangka panjang baru matang optimal di sekitar usia 25 tahun. Makanya, di usia terlalu muda, kita cenderung lebih impulsif dan susah mikir dampak jangka panjang (Steinberg, 2013).
Misalnya gini.
Saat lo jatuh cinta dan kepikiran pengen nikah. Pernah nggak lo membayangkan besok gue bangun jadi seorang istri muda di pagi hari?
Oh, my God. What the hell?
Gue harus harus ngapain?
Bangun pagi? Masak? Cuci piring?
Eh iya, gue belum kerja, ya?
Pernah nggak kepikiran soal pembagian tanggung jawab? Kalian berdua harus ngapain di bumi ini? Sayang-sayangan doang? Having sex doang? Ya, kali.
Gue yakin di usia lo yang semuda itu, nggak akan kepikiran. Bawaannya mau ngedate di kafe, nonton, jalan-jalan, ngobrol, terbebas dari sulitnya hidup, healing. Isinya seneng-seneng doang atau nggak ribut perkara hal-hal yang harusnya nggak perlu diributin.
Padahal, pernikahan nggak selalu indah seperti yang lo bayangin. Walaupun gue belum nikah, gue berani bilang gitu. Contohnya ada depan mata gue. Ngeliat ibu-bapak gue yang tiap hari grasak-grusuk bangun pagi. Ibu gue yang tiap hari masak, nyuci, nyiapin sarapan, ngurus anak, belum lagi kerja. Sementara itu, gue juga liat bapak gue tiap jam lima pagi udah berangkat kerja.
Demi apa cuy, gue yang nonton aja pusing lihat mereka.
Dari situ gue sadar, pernikahan itu bukan cuma soal cinta. Tapi soal sistem hidup yang mau nggak mau jalan tiap hari. Bahkan ketika capek, bad mood, atau pengen nyerah.
Kehidupan pernikahan itu cuma kelihatan menyenangkan diawal, setelah itu ada tujuan yang jauh lebih luas. Hidup nggak cuma sayang-sayangan lagi tetapi lebih dari itu. Ada kerja keras, komunikasi, tanggung jawab, komitmen, kesetiaan, dan masih banyak lagi.
Dan setelah lo menyadari hal itu, lo yakin mau nikah di usia semuda itu? Sanggup lo menjalankan peran yang lebih serius? Mampu mental dan tubuh lo yang itu?
Nggak masalah kalo misal lo sanggup. Go for it. Tapi kalo lo masih ragu? Coba deh pikir ulang sekali lagi. Nggak ada salahnya buat merenung, memutuskan untuk menikah di usia yang ideal, dan mematuhi aturan negara. Toh, itu dibuat untuk kebaikan bersama. Lagian calon lo ga bakal kemana, kecuali nggak jodoh aja wkwk.
Nikah muda dari persepsi psikologis.
Sebelum lo membawa orang lain masuk ke dalam hidup lo, ada satu hal penting yang nggak boleh lo lewatin yakni:
Memahami diri sendiri.
Memahami diri sendiri itu bukan sekadar lo tahu suka apa, hobi apa, atau lagi pengin apa. Tetapi memahami diri sendiri itu soal kesadaran siapa diri lo, tujuan hidup yang ingin lo dikejar, luka masa lalu yang masih lo bawa, nilai-nilai yang lo pegang, batas-batas yang lo toleransi, serta kesadaran akan tanggung jawab dari setiap keputusan yang lo pilih.
Carl Rogers (1961) dalam buku
On Becoming a Person, menjelaskan bahwa memahami diri sendiri mencakup kesadaran akan perasaan, kebutuhan, nilai pribadi, serta penerimaan terhadap diri.
Secara sederhana, orang yang memahami diri sendiri itu biasanya menunjukkan beberapa hal ini:
1. Bisa menjelaskan perasaannya sendiri. Jadi, pas emosi nggak cuma bilang “gue kesel” atau “gue capek”, tapi juga tahu alasannya kenapa?
Misalnya:
“Gue kesel (sadar akan emosinya) karena ngerasa nggak dihargai (sadar penyebab atau alasannya).”
2. Tau apa yang dibutuhin. Misa lo ngerti kapan butuh ditemani, kapan butuh ruang, kapan butuh bantuan. Lo nggak biarin orang lain nebak-nebak kebutuhan atau perasaan lo.
3. Punya batasan yang jelas. Lo tau hal apa yang bisa lo toleransi atau nggak. Contohnya, lo itu tipe orang yang nggak masalah beda pendapat (toleransi/nilai yang lo percaya) tapi nggak bisa nerima kalo dibentak, direndahin, atau di bercandain pas lagi serius (batas yang lo punya).
4. Ngambil keputusan berdasarkan kesiapan, bukan tekanan. Entah soal kerja, hubungan, atau nikah, lo bisa ambil keputusan karena emang lo yakin itu yang terbaik buat diri lo. Kalau pun belum siap, lo berani ngomong: "belum siap.” Lo bisa menjelaskan dan tahu alasannya.
5.Nggak pura-pura kuat dan berani jadi diri sendiri. Lo berani mengaku lemah, bingung, atau kewalahan tanpa merasa gagal sebagai manusia. Lo bisa bilang gue nggak sanggup tanpa merasa harga diri lo runtuh.
Loh, terus apa hubungannya dengan nikah muda?
Jadi, begini.
Di usia yang relatif muda, lo masih berada di fase mencari jati diri. Sederhananya, lo itu belum stabil secara emosi, belum selesai dengan diri sendiri, dan masih belajar mengelola konflik. Di fase ini, lo masih gampang kebawa perasaan atau bereaksi secara emosional.
Tentu, pernyataan gue bukan asumsi belaka tetapi didukung oleh konsep emerging adult hood dari Jeffrey Arnett (2000) yang menyatakan bahwa usia 18–25 tahun adalah fase eksplorasi besar-besaran. Mulai dari eksplorasi identitas, karier, nilai hidup, dan hubungan. Di fase ini, seringkali seseorang sering ngerasa bingung, ragu, atau emosinya naik turun.
Nah, masalahnya ketika pernikahan dimulai sebelum proses ini benar-benar selesai. Hubungan sering kali dibangun bukan atas dasar kesiapan melainkan karena sama-sama sedang bingung dan butuh sandaran. Tanpa sadar, pernikahan hanya sebagai tempat pelarian, bukan ruang untuk tumbuh bersama (Erikson, 1968).
Kayak, semisal dua orang yang sama-sama belum selesai dengan dirinya sendiri, lalu bersama dalam komitmen jangka panjang. Kebayang nggak arahnya gimana? Walaupun ya mungkin keduanya bisa aja sama-sama belajar, tapi risikonya jauh lebih besar.
Belum lagi, masalah regulasi emosi.
Saat pernikahan dimulai oleh dua pihak yang sama-sama belum bisa mengelola emosi maka hal-hal kecil jadi gampang diributin. Misal lo overthinking karena chat lama dibales, padahal bisa aja pasangan lo lagi sibuk. Contoh lagi, nada bicara yang terasa dingin terkesan bikin lo nggak dihargai tapi bukannya malah komunikasi tapi ngambek diem dieman. Intinya beda pendapat dikit bisa jadi konflik besar karena emosi. Nah, kondisi ini berkaitan dengan emotion regulation oleh James Gross (1998) yang menjelaskan bahwa individu yang belum mampu mengelola emosinya cenderung bereaksi secara impulsif, sehingga konflik kecil terasa jauh lebih berat dari yang sebenarnya.
Di saat yang sama, ketidakmatangan emosi juga bikin lo nganggap pasangan itu sebagai tempat pulang atau sandaran, bukan sebagai partner untuk tumbuh bersama. Hal ini berkaitan dengan teori attachment dari John Bowlby (1969) dimana ketika rasa aman belum terbentuk dari dalam diri, seseorang cenderung menggantungkan keseimbangan emosionalnya pada pasangan. Akibatnya, keputusan dalam hubungan lebih sering digerakkan oleh rasa takut kehilangan, takut sendirian, atau takut gagal. Kayak kesannya kalian hidup bareng cuma buat saling validasi atau saling ngisi attention. Tanpa emang bener-bener punya visi misi pengen hidup bareng ke arah yang positif.
Kecuali, untuk lo yang emang kepepet banget nggak punya siapa-siapa. Gue nggak nyalahin, ya. Gue amat sangat berempati dan peduli karena mungkin lo sendiri nggak punya pilihan. Lo lagi butuh seseorang yang memang siap untuk jaga lo. That's okay.
Tapi kembali lagi, sebelum lo ngambil keputusan itu penting untuk bertanya ulang kepada diri sendiri.
Apakah keputusan yang lo pilih memang lahir dari kesiapan atau hanya sekedar dorongan emosional sesaat? Apakah lo emang udah bener-bener nggak mampu hidup sendiri? Apakah ada opsi lain?
Apa pun jawabannya, gue harap lo memandang pernikahan sebagai sesuatu yang sakral. Dimana lo paham tujuannya dan mampu bertanggung jawab atas keputusan yang lo pilih.
Sekali lagi gue tekankan bahwa pernikahan bukan ruang untuk kabur dari rasa sepi atau luka yang belum selesai. Pasangan lo bukan terapis, penyelamat, atau pihak yang bertugas memperbaiki kekosongan batin ya lo punya. Kelemahan lo juga bukan alasan buat menyeret siapa pun untuk menanggung penderitaan yang belum lo selesaikan.
Mungkin terdengar sarkas. Tapi gue berharap lo berpikir jangka panjang. Lo nggak cuma mementingkan apa yang lo butuhkan sekarang, tapi juga mempertimbangkan dampak untuk lima sampai sepuluh tahun ke depan.
Jadi, apakah nikah muda itu worth it atau nggak?
Jawabannya: balik lagi pada keputusan dan kesiapan lo.
Kalau lo udah ngerasa nggak punya tanggungan emosional atau niat terselubung. Silahkan, nikah.
Tapi kalau lo masih belum punya tujuan yang jelas, nggak kenal sama diri sendiri, cuma mikirin niat terselubung, dan ego semata. Nggak usah macem-macem ya! Hidup lo nggak akan berakhir kalo sementara hidup sendirian.
Nikah muda dari persepsi sosial-ekonomi.
Dibagian ini, gue nggak mau banyak bahas soal teori sosial atau ekonomi. Lo bisa pelajari sendiri di blog lain WKWKWK.
Gue disini cuma mau bahas dua hal penting yang menurut gue bisa jadi gambaran kenapa nikah muda boleh-boleh aja dilakukan, dan siapa yang menurut gue, "Udah lah lo nggak usah macem-macem buat nikah muda". Tambah ribet hidup lo.
Jadi, menurut opini gue pribadi.
Kalau misal lo termasuk golongan yang punya privilege ekonomi, nggak masalah buat lo nikah. Kayak walaupun umur lo masih muda tapi lo mampu secara ekonomi dan sudah dipertemukan dengan pasangan, why not? Sah-sah aja buat nikah. Apalagi secara psikologis lo juga udah ngerasa aman. Tinggal manfaatkan kebebasan finansial lo untuk saling mengenal diri, konsultasi pra nikah, atau persiapan lainnya. Kayak masalah-masalah yang sebelumnya kelihatan pusing, jauh lebih mudah diselesaikan karena privilege ekonomi yang lo miliki.
Beda cerita nih, kalo misal lo nggak punya privilege ekonomi. Duh, berat cuy bahasannya. Dengan berat hati gue mau bilang, "Udah lah gausah nikah untuk sekolah. Kerja aja guys"
Kelihatan nggak adil memang.
Tapi pernyataan itu ada alasannya. Kayak misalkan lo nggak punya duit atau privilege ekonomi. Lo maupun pasangan bisa sama-sama pusing masalah finansial. Bukan masalah soal miskin atau kaya, tetapi soal stabilitas bersama. Aliyas capek banget hidup nggak stabil itu bro. Coba deh berpikir realistis, kalo secara finansial aja lo nggak aman, gimana mau hidup bareng sama orang lain. Mau lo terjebak dalan ketimpangan ekonomi dan kemiskinan struktural?
Poinnya, kalo lo susah solusinya bukannya cari pasangan, tapi cari kerja, cari duit.
Dunia akan terasa nggak adil kalo lo nggak punya hal itu. In real life, nggak akan ada pengeran atau nona muda yang akan menyelamatkan lo dari penderitaan. Kecuali, kehidupan lo hoki aja sih. Emang udah ketiban takdir baik hahaha.
Lain cerita kalo semisal hidup lo apes. Lo udah coba buat ngorbanin masa muda untuk nikah. Harapan kehidupan akan membaik. Katanya, "rejeki bakal ada jalannya, jalani aja dulu". Nah, itu yang bahaya. Dampaknya nggak cuma ke diri sendiri maupun pasangan tetapi juga anak lo nanti. Tanpa sadar lo akan masuk ke dalam sistem yang disebut dengan kemiskinan struktural.
Kehidupan pernikahan yang seharusnya menjadi ruang untuk tumbuh bersama. Malah jadi ruang ribut perkara uang, biaya hidup, atau tempat tinggal. Kebutuhan anak yang semula kelihatan mudah buat diusahakan. Ujung-ujungnya malah kacau berantakan. Karena memang sedari awal nggak pernah dipikirin tapi cuma dijalanin aja.
Mungkin, di awal-awal masih kelihatan aman. Tapi gimana untuk lima tahun kedepan? Apakah lo bisa tumbuh jadi pribadi lebih baik? Gimana nanti pas lo diberikan kesempatan untuk jadi orang tua? Apakah lo mampu memberikan cinta, kasih sayang, makanan sehat, dan pendidikan yang layak? Apakah lo sudah mempersiapkan diri untuk hal itu? Apakah lo sanggup untuk hal itu?
Gue harap lo memikirkan hal itu.
Gue harap lo jadi manusia yang bertanggung jawab.
Gue harap lo nggak cuma jadi manusia pinter ngerasa tapi juga berpikir.
Gue nggak ada maksud untuk menilai keputusan siapapun. Gue menyadari bahwa setiap orang punya kesulitan dan pilihannya masing-masing. Gue paham rasanya terjebak di kemiskinan struktural sampai akhirnya ngerasa seperti nggak punya pilihan.
Namun, naif atau nggak? Gue masih percaya kalo kita semua masih punya kebebasan untuk memilih. Kita masih punya kesempatan untuk membuat dunia lebih baik.
Bagi gue, kita boleh aja miskin guys, tapi jangan sampai miskin tanggung jawab, pola pikir, dan pengetahuan.
Thank you.
Salam hangat dari sadiya :D
Peace.
Sumber referensi:
Arnett, J. J. 2000. Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480.
Bowlby, J. 1969. Attachment and loss: Vol. 1. Attachment. New York: Basic Books.
Erikson, E. H. 1968. Identity: Youth and crisis. New York: W. W. Norton & Company.
Steinberg, L. 2013. Age of opportunity: Lessons from the new science of adolescence. Boston: Houghton Mifflin Harcourt.
World Health Organization (WHO). 2014. Adolescent pregnancy: Issues in adolescent health and development. Geneva: WHO.
Komentar
Posting Komentar