I just want to get on with my life


Ketika saya masih kecil. Saya kebetulan tidak punya kesempatan untuk berbicara. Saya tumbuh dalam keluarga dimana ayah dan ibu saya sering bertengkar. Saat itu, sebagai seorang anak saya hanya berusaha mengerti dan bertahan. Saya tumbuh menjadi seorang anak yang pendiam dan berusaha tidak membuat masalah agar tidak ada pertengkaran karena saya. Saya pikir dengan menjadi anak anak penurut tanpa berani berbicara akan membuat saya aman. Tetapi peristiwa itu justru membuat saya menjadi pribadi yang cukup susah untuk menyampaikan apa yang saya pikirkan atau saya rasakan.

Saya lebih banyak menahan apa ingin saya sampaikan. Saya tidak percaya bahwa orang-orang akan mendengarkan saya. Saya jadi gampang gugup dan takut ketika berinteraksi dengan banyak orang. Pikiran buruk saya selalu saja mengatakan jika mereka akan mengeluarkan kalimat-kalimat menyakitkan atau menyudutkan. Rasanya saya seperti tidak mempercayai manusia manapun sebagai tempat untuk berbicara atau mendengarkan. Bahkan saya menjadi sangat takut ketika diabaikan dan saya tahu, saya tidak bisa membiarkan itu semua. 

Saya menceritakan hal ini bukan untuk menyalahkan keadaan atau merasa kisah hidup saya paling menyedihkan. Tetapi saya hanya ingin mengevaluasi diri saya. Saya ingin memperbaiki pikiran saya yang buruk Saya ingin berdamai dengan masa lalu saya dan melanjutkan hidup sebagaimana mestinya. Saya ingin selalu ada perubahan kecil dalam diri saya. Saya ingin belajar bercerita, berkomunikasi, dan menyampaikan apa yang rasakan maupun saya pikirkan, maka dari itu saya memberanikan diri untuk menuliskan semua ini. 

Bukan karena saya tidak punya tempat untuk berbagi hal ini. Hanya saja saya merasa lebih bebas ketika menceritakan di sini. Saya merasa lebih nyaman karena tidak perlu memaksa siapapun untuk membaca hal ini. Saya merasa lebih leluasa mengekspresikan diri dan meluapkan apa yang saya rasakan. Saya tidak tahu apakah langkah ini benar. Saya hanya berusaha untuk merefleksikan perjalanan saya yang menurut saya begitu berat dan melelahkan. 

Saya ingin menemukan kedamaian dan kebebasan yang begitu saya inginkan. Saya ingin terbebas dari pikiran dan hati yang kotor, luka-luka yang belum sempat sembuhkan. Saya ingin tumbuh menjadi pribadi yang bersih - lebih terbuka dan berani menyampaikan apa ia pikirkan maupun ia rasakan. Saya tidak ingin rasa takut ini menguasai diri saya dan membuat saya kehilangan siapa saya yang sebenarnya. Saya ingin menemukan cahaya saya sendiri. Saya ingin menyuarakan pikiran saya tanpa merasa takut, tanpa merasa rendah diri, tanpa merasa ini aneh, tanpa menyalahkan siapapun yang pernah menjadi bagian didalamnya.

Saya menerima setiap rasa sakit yang membentuk diri saya sampai sekarang. Tetapi saya sungguh-sungguh ingin menemukan makna dan kedamaian di dalamnya. Saya memang tidak bisa menghapus kenang-kenangan buruk itu. Tetapi saya yakin, saya hanya butuh beberapa waktu untuk mendapatkan pembelajarannya. Saya menghargai setiap prosesnya. 

Terlepas dari banyaknya pengalaman kurang menyenangkan yang telah saya dapatkan. Saya sangat menyayangi orang-orang yang terlibat didalamnya. Walaupun saya tidak menyampaikannya secara langsung. Tapi sungguh, saya sangat menyayangi mereka semua. Saya menyadari bahwa mereka maupun saya hanya manusia biasa yang saat itu sama sama tengah bertahan untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing. Saya memang kecewa tetapi saya begitu menghormati mereka semua. Saya juga tidak pernah bisa melupakan kebaikan-kebaikan dari mereka. 

Saya menyadari bahwa pengalaman buruk memang menyakitkan tetapi saya juga menyadari bahwa tanpa pengalaman buruk itu mungkin saya tidak akan pernah belajar sejauh ini. Saya mungkin akan lebih banyak bersenang-senang dan melupakan pembelajaran yang seharusnya saya dapatkan. Namun, karena pengalaman tadi akhirnya saya di sini. Saya belajar refleksi. Saya belajar berdamai. Saya belajar memaafkan.

I don’t know if this is what they call the art of pain?


Komentar

Postingan Populer